Tadabbur Ayat-Ayat Puasa dalam Surah Al-Baqarah

Daftar Isi

Puasa itu ibadah yang luar biasa. Ia termasuk ibadah yang paling mulia, dan termasuk amalan yang paling dicintai Allah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah syariat besar yang Allah tetapkan untuk membersihkan jiwa, melatih diri, dan memperbaiki hidup manusia—karena dari individu-individu yang baik itulah masyarakat terbentuk.

Karena begitu pentingnya puasa, Allah menjadikannya wajib, bahkan masuk ke dalam rukun Islam yang lima.

Al-Qur’an juga membahas puasa secara khusus dalam Surah Al-Baqarah, ayat 183–187. Maka, dari ayat-ayat inilah kita mencoba menadabburi beberapa “Perenungan” (perenungan), menatap ayat-ayat puasa itu lebih dekat, lalu mengambil darinya pelajaran, faedah, dan petunjuk yang bisa bikin Ramadan kita jadi lebih sadar, lebih dalam, dan lebih berasa. Dan agar puasa kita bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar jadi jalan menuju Allah.

Puasa Itu Ibadah Sangat Penting

Secara bahasa, puasa berarti menahan diri. Secara syariat, puasa adalah beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar sampai magrib.

Puasa punya kedudukan tinggi dalam Islam. Bahkan sejak ayat pertama tentang puasa, Allah sudah menegaskan bahwa puasa bukan ibadah “baru”, tapi ibadah yang sudah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu:

﴿كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ﴾

“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ini menunjukkan puasa punya manfaat yang besar dan pengaruh yang luas.

Para ulama menjelaskan puasa itu seperti “training” untuk jiwa: menahan syahwat, memutus kebiasaan buruk, menyeimbangkan dorongan nafsu, sampai akhirnya hati jadi lebih sehat dan hidup jadi lebih tertata.

Puasa juga bikin kita lebih peka: lapar dan haus mengingatkan kita pada saudara-saudara kita yang sering kelaparan bukan karena ibadah, tapi karena kesulitan hidup.

Dan yang menarik, puasa punya sisi paling unik: rahasia. Orang bisa melihat kita tidak makan dan tidak minum, tapi orang tidak bisa memastikan apakah kita benar-benar ikhlas demi Allah. Karena itulah, puasa jadi ibadah yang sangat dekat dengan keikhlasan. Keistimewaan puasa makin terasa saat Allah menyandarkannya langsung kepada diri-Nya dalam hadis qudsi:

كلُّ عملِ ابنِ آدمَ يُضاعفُ ؛ الحسنةُ بعشرِ أمثالِها ، إلى سَبْعِمائةِ ضِعفٍ ، قال اللهُ تعالى :إِلَّا الصَّوْمَ ؛ فإنَّه لِي ، وأنا أجزي به ، يَدَعُ شهوتَه وطعامَه من أجلِي ، وللصائمِ فرْحتانِ : فرحةٌ عند فِطرِه ، وفرحةٌ عند لقاءِ ربِّه ، ولَخَلُوفُ فمِ الصائمِ ، أطيبُ عند اللهِ من ريحِ المِسكِ

“Setiap amal perbuatan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta‘ala berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Ibnu Majah (no. 1638) dengan lafaz ini, dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1904) serta Muslim (no. 1151) dengan sedikit perbedaan lafaz.)

Banyak ulama menjelaskan makna “puasa itu milik-Ku”: karena puasa sulit dipamerkan, pahalanya hanya Allah yang tahu, dan puasa benar-benar murni untuk Allah. Dan hadiah bagi orang-orang yang berpuasa pun spesial: kelak di surga ada pintu khusus untuk mereka, namanya Ar-Rayyan.

عَنْ سَهْلِ بنِ سَعدٍ -رضي الله عنه- عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Dari Sahl bin Sa‘d رضي الله عنه, dari Nabi beliau bersabda:
Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Pada hari kiamat, orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu. Tidak ada seorang pun yang masuk melaluinya selain mereka. Lalu akan dikatakan: ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka pun berdiri. Tidak ada yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka telah masuk, pintu itu ditutup, dan tidak ada seorang pun yang masuk melaluinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim dan lafadz ini dalam Riwayat Muslim)

Maka wajar kalau seorang mukmin disarankan menyambut Ramadan dengan sadar: puasa ini ibadah mulia, jangan dikerjakan dengan setengah hati.

Puasa Diawali dengan Seruan “Wahai Orang Beriman”

Ayat puasa dibuka dengan panggilan yang terasa hangat:ايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُو “Wahai orang-orang yang beriman!” (QS. Al-Baqarah: 183) Ini bukan sekadar panggilan, tapi juga bentuk penghormatan. Seolah Allah sedang menegaskan: “Ini tugas mulia, dan yang paling pantas menjalankannya adalah orang yang punya iman.”

Orang beriman itu cirinya satu: cepat merespons perintah Allah. Mereka bilang: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا “Kami mendengar dan kami taat.” (QS. An-Nur: 51) Dan juga: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا “Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Rabb kami.” (QS. Al-Baqarah: 285)

Puasa Itu Mudah

Sebagian orang merasa puasa itu berat. Tapi Al-Qur’an justru menunjukkan bahwa puasa adalah bagian dari syariat yang mudah dan penuh rahmat.

Nabi bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah.” Allah menyebut puasa itu:

 ﴿أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ﴾

“(yaitu) beberapa hari yang tertentu (terhitung).” (QS. Al-Baqarah: 184)

Kalau sakit atau sedang bepergian (safar):

﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾

“Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Dan puncaknya, Allah menegaskan prinsip besar:

 ﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Termasuk kemudahan juga ketika Allah membolehkan makan, minum, dan hubungan suami-istri di malam Ramadan hingga fajar:

﴿حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ﴾

“Hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Maka tidak pantas kalau Ramadan datang lalu kita sambut dengan kesal dan malas. Jangan sampai masuk kategori orang yang membenci apa yang Allah turunkan:

﴿ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa yang Allah turunkan, maka Allah menghapus (menggugurkan) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9)

Perenungan 4: Ramadan Itu Bulannya Al-Qur’an

Ramadan itu bukan cuma bulan puasa, tapi juga bulan Al-Qur’an:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾

“(Yaitu) bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dulu, para salaf begitu serius dengan Al-Qur’an di Ramadan sampai mereka mengurangi aktivitas lain, agar lebih fokus tilawah dan qiyam. Puasa dan Al-Qur’an bahkan akan memberi syafaat di hari kiamat:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba…” (HR. Ahmad)

Rasulullah pun setiap malam Ramadan bertadarus bersama Jibril. Karena itu, jangan biarkan Ramadan lewat tanpa Al-Qur’an. Minimal targetkan satu kali khatam, kalau bisa lebih. Dan juga penting untuk berusaha mentadaburi setiap ayat yang kita baca. Ingat pesan Nabi :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)

Dan jangan sampai kita termasuk orang yang Rasulullah adukan:

﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا﴾

“Dan Rasul (Muhammad) berkata: ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan (diabaikan).’” (QS. Al-Furqan: 30)

Tiga Target Penting Ramadan

Selain takwa, ada tiga tujuan yang disebutkan Allah:

﴿وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa), dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

1) Menyempurnakan bilangan puasa
Artinya menyelesaikan Ramadan dan mengganti kalau ada yang tertinggal. Karena pahala besar dikaitkan dengan kesempurnaan puasa Ramadan.

“Siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2) Mengagungkan Allah
Bukan cuma takbir saat salat Id, tapi juga mengagungkan perintah Allah dan menghormati syariat-Nya.

3) Senantiasa Bersyukur
Syukur itu ditunjukkan dengan amal:

﴿اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا﴾

“Beramallah, wahai keluarga Daud, sebagai wujud syukur (kepada Allah).” (QS. Saba’: 13)

Nabi adalah teladan tertinggi. Saat beliau qiyam sampai bengkak kakinya, beliau berkata:

“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa dan Doa Itu Paket Kumplit

Ayat doa berada di tengah ayat-ayat puasa, seolah Allah berkata: “Puasa ini harus dekat dengan doa.”

﴿وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ﴾

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Allah juga berfirman:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾

“Dan Rabb-mu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.’” (QS. Ghafir: 60)

Doa orang puasa termasuk yang sangat diharapkan terkabul:

“Tiga doa yang tidak ditolak… (di antaranya) doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka.”
(HR. Tirmidzi)

Dan Nabi bersabda: “Doa itu adalah ibadah.”

Maka Ramadan itu waktunya “banjir doa”—siang berpuasa, malam tarawih dan qiyamullail, maka disepanjang waktu itu jadikanlah momen untuk melangitkan doa-doa kita kepada Allah.

Takwa di Awal, Tengah, dan Akhir

Ayat puasa dibuka dengan takwa, ditutup pun dengan takwa. Karena puasa adalah jalan utama menuju takwa.

Puasa melatih kita meninggalkan yang haram, melatih merasa diawasi Allah, mempersempit jalan setan, dan memperbanyak ketaatan. Karena itu, jangan keluar dari Ramadan hanya membawa lapar dan haus. Jangan sampai masuk dalam peringatan Nabi :

“Celaka seorang hamba yang mendapati Ramadan, lalu Ramadan berlalu dan ia tidak diampuni.”

Renungan ini hanya sedikit dari lautan pelajaran dari ayat-ayat puasa dalam Surah Al-Baqarah. Inti pesannya jelas, Ramadan bukan sekadar bulan “menahan diri”, melainkan bulan untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, menguatkan hubungan dengan sesama manusia dan kembali mesra dengan Al-Qur’an.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang bertakwa, dan selalu menolong kita untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

- Heri Efendi, Lc -

Posting Komentar