Keutamaan Bulan Ramadhan dan Kisah Rasulullah ﷺ serta Para Sahabat dalam Menyambutnya

Daftar Isi

 

Ramadhan, Tamu Mulia yang Datang Membawa Ampunan

Bulan Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Ia adalah tamu agung yang datang membawa keberkahan, ampunan, rahmat, dan peluang perubahan terbesar dalam hidup seorang Muslim. Ramadhan ibarat “musim panen” bagi orang beriman: siapa yang serius menanam amal, ia akan memetik hasilnya di dunia dan akhirat.

Rasulullah dan para sahabat adalah generasi terbaik yang menunjukkan bagaimana seharusnya Ramadhan disambut: bukan dengan euforia kosong, tetapi dengan iman, persiapan, semangat ibadah, dan kepedulian sosial.

1. Ramadhan adalah Bulan yang Diwajibkannya Puasa: Jalan Menuju Takwa

Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan besar untuk:

  • menguatkan kendali diri,
  • menundukkan hawa nafsu,
  • membersihkan hati,
  • dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tujuan puncaknya adalah takwa, yaitu keteguhan hati untuk taat kepada Allah, baik ketika sendiri maupun di hadapan manusia.

2. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Allah berfirman:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Maka siapa yang ingin Ramadhannya bernilai tinggi, jangan menjadikan Ramadhan hanya “bulan berburu makanan saat berbuka”, tetapi jadikan ia bulan berburu petunjuk lewat Al-Qur’an.

Rasulullah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, bahkan Jibril menemui beliau setiap Ramadhan untuk muraja’ah Al-Qur’an.

Dalam hadits disebutkan:

“Jibril menemui Rasulullah setiap malam di bulan Ramadhan dan beliau mengajarkan (muraja’ah) Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum menghidupkan Al Quran lebih intens lagi, bukan hanya rutinitas.

3. Ramadhan adalah Bulan Dibukanya Pintu Surga dan Ditutupnya Pintu Neraka

Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu…” (HR. Ahmad; juga dishahihkan dalam banyak riwayat)

Di bulan ini, suasana kebaikan dibuka lebar. Maka sangat rugi orang yang melewatkannya tanpa taubat dan amal. Karena Rasulullah juga bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kuncinya ada dua:

  1. iman,
  2. mengharap pahala dari Allah.

Artinya bukan sekadar ikut-ikutan, bukan pula sekadar “puasa budaya”, tetapi puasa yang menghadirkan Allah dalam hati.

4. Ramadhan Memiliki Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan: Lailatul Qadar

Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Dalam hadits juga disebutkan:

“Barangsiapa menegakkan (ibadah pada) malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, Rasulullah bersungguh-sungguh luar biasa di 10 malam terakhir.

Aisyah radhiyallahu'anhaa berkata:

“Rasulullah apabila masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan kain sarungnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini bukan hanya ibadah personal, tetapi menghidupkan suasana Ramadhan di rumah, agar keluarga juga merasakan kemuliaannya.

5. Ramadhan adalah Bulan Pengampunan dan Pembebasan dari Api Neraka

Rasulullah bersabda:

“Pada setiap malam (Ramadhan), Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka.”
(HR. Ahmad dan lainnya)

Jika setiap malam ada peluang pembebasan dari neraka, maka Ramadhan adalah bulan harapan, bukan bulan putus asa.

Namun harapan itu harus disambut dengan:

  • taubat yang jujur,
  • memperbaiki shalat,
  • meninggalkan dosa yang tersembunyi,
  • dan memohon ampun dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah Menyambut Ramadhan Sejak Jauh Hari

Salah satu cara Rasulullah menyambut Ramadhan adalah menguatkan puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Aisyah رضي الله عنها berkata:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Ramadhan disambut dengan pemanasan ruhani, bukan persiapan sekadar stok makanan dan jadwal buka bersama. Sya’ban adalah bukti bahwa Ramadhan bukan “datang tiba-tiba”. Ia dipersiapkan dengan amal.

Para Sahabat Menyambut Ramadhan dengan Doa dan Kerinduan

Generasi sahabat dan salafush shalih dikenal punya karakter yang kuat:

  • mereka berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan,
  • lalu berdoa agar amal mereka diterima setelah Ramadhan.

Dalam atsar disebutkan bahwa mereka berdoa:

“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”
dan setelah Ramadhan:
“Ya Allah, terimalah (amal) dari kami.”

Ini menggambarkan bahwa orang beriman bukan sekadar “melewati Ramadhan”, tetapi ia ingin menghidupkannya.

Kerinduan para sahabat kepada Ramadhan bukan karena makanan khasnya, tetapi karena:

  • pahala yang berlipat,
  • peluang taubat yang luas,
  • suasana iman yang menguat.

Ramadhan adalah Bulan Jihad Jiwa dan Perjuangan Umat

Ramadhan juga bukan bulan bermalas-malasan. Ia Adalah bulan jihad dan mujahadah. Justru banyak peristiwa besar terjadi di bulan ini, di antaranya:

a) Perang Badar (17 Ramadhan)

Perang Badar adalah titik balik sejarah Islam. Saat kaum Muslimin dalam jumlah kecil, Allah menolong mereka dengan pertolongan yang luar biasa.

Allah berfirman:

“Sungguh Allah telah menolong kalian dalam Perang Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah.”
(QS. Ali ‘Imran: 123)

Badar menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan:

  • keteguhan iman,
  • pengorbanan,
  • dan kemenangan spiritual.

b) Fathu Makkah (Pembebasan Makkah) di Ramadhan

Pada tahun 8 H, Rasulullah masuk ke Makkah dengan penuh wibawa dan kasih sayang, lalu menghancurkan berhala dan menegakkan tauhid. Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan hakiki bukan sekadar mengalahkan musuh, tetapi mengalahkan kesombongan, dendam, dan hawa nafsu.

Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu tanpa Perubahan

Ramadhan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan terulang. Kita tidak pernah tahu apakah masih diberi umur sampai Ramadhan berikutnya.

Maka mari menyambut Ramadhan dengan:

  • taubat yang jujur,
  • persiapan iman sejak Sya’ban,
  • semangat ibadah,
  • menghidupkan rumah dengan Al-Qur’an,
  • dan meneladani Rasulullah serta para sahabat.

Semoga Allah menjadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kita—Ramadhan yang mengubah hati, memperbaiki amal, dan mengangkat derajat kita di sisi-Nya.

اللهم بلغنا رمضان وأعنا فيه على الصيام والقيام وغض البصر وحفظ اللسان.

“Ya Allah, sampaikan kami kepada Ramadhan dan tolong kami di dalamnya untuk berpuasa dan qiyam, menundukkan pandangan dan menjaga lisan.”

Aamiin.

 

Posting Komentar