Bagaimana Nabi Saw. Dalam Menyambut dan Mempersiapkan Ramadhan ?
Bulan Berkah yang Dirindukan
Ramadhan adalah bulan yang selalu kita tunggu. Namun, tidak
semua orang benar-benar mendapatkan Ramadhan meskipun ia menjalani puasa. Ada
yang berpuasa, tetapi hanya mendapat lapar dan haus. Ada yang tarawih, tetapi
hatinya tidak berubah. Ada yang membaca Al-Qur’an, tetapi belum menjadikannya
petunjuk hidup.
Karena itu, para ulama berkata: Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan perubahan.
Dan perubahan itu tidak datang secara tiba-tiba. Ia butuh persiapan, butuh pintu masuk yang benar, butuh hati yang disiapkan. Sebagian kita mungkin bertanya-tanya, " Bagaimana Rasulullah Saw menyambut bulan Ramdhan?" Maka, mari kita belajar dari tuntunan Baginda Saw dan generasi terbaik dalam menyambut bulan yang mulia ini.
1. Persiapan Nabi ﷺ Menyambut Ramadhan: Memanaskan Iman dengan
Amal
Di antara petunjuk Rasulullah ﷺ dalam menyambut Ramadhan adalah meningkatkan
puasa sunnah di bulan Sya’ban.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَصُومُ حتَّى نَقُولَ: لا يُفْطِرُ، ويُفْطِرُ حتَّى نَقُولَ: لا يَصُومُ، فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ.) رواه البخاري رقم 1969)
Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa sampai-sampai kami berkata: ‘Beliau tidak akan berbuka.’ Dan beliau juga berbuka (tidak berpuasa) sampai-sampai kami berkata: ‘Beliau tidak akan berpuasa.’ Namun aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa beliau pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969)
Dan beliau juga berkata:
“Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya’ban.” (HR. Muslim)
Maknanya jelas: Nabi ﷺ tidak menunggu Ramadhan baru bergerak, tetapi beliau memulai lebih awal.
Ibnu Rajab رحمه
الله menjelaskan dalam Lathā’if al-Ma‘ārif:
Puasa Sya’ban itu seperti latihan agar ketika masuk Ramadhan, seseorang tidak merasa berat dan sulit. Ia sudah terbiasa menahan diri, sudah merasakan manisnya ibadah, sehingga ia masuk Ramadhan dengan kekuatan dan semangat.
Pelajaran untuk kita
Seringkali kita menunda perubahan dengan kalimat: “Nanti Ramadhan saya mulai serius…” Padahal Ramadhan itu seperti tamu agung. Kalau kita ingin menghormatinya, kita sambutlah ia dari jauh hari, bukan mendadak saat ia sudah di depan pintu.
2. Bereskan Utang Puasa Sebelum Ramadhan Datang
Termasuk persiapan yang diajarkan Rasulullah ﷺ
adalah menyelesaikan kewajiban puasa yang masih tertinggal.
سَمِعْتُ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، تَقُولُ: كانَ يَكونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن
رَمَضَانَ، فَما أسْتَطِيعُ أنْ أقْضِيَ إلَّا في شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى:
الشُّغْلُ مِنَ النبيِّ أوْ بالنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ.
أخرجه البخاري (1950)، ومسلم (1146)
Aku mendengar Aisyah رضي الله عنها berkata:
“Aku pernah memiliki utang puasa Ramadhan, tetapi aku
tidak mampu menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban.” Yahya berkata:
“(Hal itu karena) kesibukan bersama Nabi ﷺ atau mengurus urusan Nabi ﷺ.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)
Ini bukan sekadar fiqih “mengganti puasa”, tetapi fiqih menyambut Ramadhan dengan ringan.
Renungan : Bagaimana mungkin kita ingin Ramadhan menjadi “awal yang baru”, sementara masih menunda kewajiban lama? Ramadhan adalah bulan pembersihan. Maka masuklah ke Ramadhan dengan hati yang lebih ringan, beban yang berkurang, dan tekad yang lebih kuat.
3. Menyambut Ramadhan dengan Doa
Para salaf tidak menyambut Ramadhan dengan “kesibukan dunia”, tapi dengan rindu yang ditanam lewat doa.
Mu‘allā bin al-Fadhl meriwayatkan:
“Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, lalu berdoa enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima.”
Yahya bin Abi Katsir berkata:
“Termasuk doa mereka adalah:
اللَّهُمَّ
سَلِّمْنِي إِلَىٰ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي
مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, selamatkanlah aku hingga (sampai) Ramadhan. Dan selamatkanlah Ramadhan untukku (jadikan aku mampu menjalankannya dengan baik). Dan terimalah Ramadhan dariku dalam keadaan Engkau menerimanya (sebagai amal yang diterima).”
Inilah adab orang beriman
Orang beriman itu tidak hanya mengejar amal. Ia mengejar diterimanya amal. Karena betapa banyak orang shalat—tetapi tidak diterima. Betapa banyak orang puasa—tetapi tidak mengubah apa pun. Maka doa itu bukan pelengkap, tapi inti persiapan.
4. Gembira Menyambut Ramadhan Itu Sunnah, Bukan Lebay
Sebagian orang menganggap gembira menyambut Ramadhan hanya “tradisi”. Padahal ini termasuk petunjuk Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ biasa memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangan bulan Ramadhan.
عن أبي هريرة
قال: قال رسول الله ﷺ :«أتاكم رمضان شهر مبارك، فرض الله عز وجل عليكم صيامه، تفتح
فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه مردة الشياطين، لله فيه ليلة
خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم».
أخرجه النسائي (2106)، وأحمد (7148) واللفظ له
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang
penuh berkah. Allah عز وجل
mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu langit
dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang paling durhaka
dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Siapa yang terhalang dari kebaikannya, sungguh ia benar-benar terhalang.”
(Diriwayatkan oleh An-Nasa’i no. 2106 dan Ahmad no. 7148, dan lafaz ini milik Ahmad.)
Dalam hadits lain:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا دخل رمضان فُتحت أبواب الجنة، وغُلِّقت أبواب جهنم، وسلسلت الشياطين»، رواه البخاري برقم (3277)، ومسلم (1079).
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Apabila bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka
Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079)
Maka wajar jika hati seorang mukmin berbunga-bunga. Bukan karena Ramadhan identik dengan makanan, tetapi karena kesempatan ampunan terbuka lebar, jalan surga dimudahkan, pintu neraka dipersempit, suasana iman menguat.
Allah ﷻ
berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨
“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah
mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus: 58)
Gembira menyambut Ramadhan itu sunnah. Tapi gembira yang benar adalah gembira yang melahirkan amal, bukan gembira yang melahirkan lalai.
5. Menetapkan Masuknya Ramadhan: Ikuti Sunnah, Bukan Perasaan
Rasulullah ﷺ
memberi kaidah yang jelas:
صوموا لرؤيتِه
وأفطروا لرؤيتِه ، فإن غُمَّ عليكم فعُدُّوا ثلاثين يومًا ، يعني : عُدُّوا شعبانَ
ثلاثين
أخرجه البخاري (1909)، ومسلم (1081) باختلاف يسير
“Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Jika terhalang, maka sempurnakanlah hitungan tiga puluh hari.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1909) dan Muslim (1081) dengan sedikit perbedaan redaksi.)
Ini mengajarkan bahwa Ramadhan dimulai dengan:
- ilmu,
- ketertiban,
- dan
mengikuti bimbingan syariat.
Bukan sekadar rumor, bukan sekadar perkiraan, bukan sekadar “katanya”.
6. Menjauhi Puasa Hari Syak: Jangan Mendahului Ramadhan
Hari syak adalah hari yang diragukan: apakah masih Sya’ban
atau sudah Ramadhan.
Nabi ﷺ
melarang mendahului Ramadhan, kecuali seseorang yang memang punya kebiasaan
puasa sunnah.
Beliau ﷺ
bersabda:
لا تَقدَّموا
الشهرَ بيَومٍ ولا بيومينِ. إلا أن يوافقَ ذلكَ صومًا كانَ يصومُهُ أحدُكم، صوموا
لرؤيتِهِ وأفطِروا لرؤيتِهِ، فإن غمَّ عليكُم فعدُّوا ثلاثينَ ثم أفطِروا
أخرجه الترمذي (684) واللفظ له، وأخرجه البخاري (1909، 1914)، ومسلم (1081، 1082) مفرقاً باختلاف يسير
“Janganlah kalian mendahului (masuknya) bulan (Ramadhan)
dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali jika itu bertepatan
dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang di antara kalian.
Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal.
Jika hilal tertutup dari kalian (karena mendung), maka hitunglah (genapkan)
tiga puluh hari, kemudian berbukalah.”
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (684) dan lafaznya milik beliau. Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1909, 1914) dan Muslim (1081, 1082) secara terpisah, dengan sedikit perbedaan redaksi.
Karena ibadah itu bukan tentang “lebih cepat”, tetapi tentang lebih tepat dan sesuai sunnah.
7. Doa Saat Melihat Hilal: Memulai Bulan dengan Tauhid
Dari Ibnu Umar رضي الله عنه:
أنَّ النَّبيَّ
صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ إذا رَأى الهلالَ قالَ اللَّهمَّ أهلِلهُ
علَينا باليُمنِ والإيمانِ والسَّلامَةِ والإسلامِ ربِّي وربُّكَ اللَّهُ
أخرجه الترمذي (3451)، وأحمد (1397)، والدارمي (1730) واللفظ لهم
Sesungguhnya Nabi ﷺ apabila melihat hilal (bulan sabit), beliau berdoa:
“Ya Allah, tampakkanlah hilal ini kepada kami dengan
keberkahan, iman, keselamatan, dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan)
adalah Allah.”
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3451, Ahmad no. 1397, dan Ad-Darimi no. 1730, dan lafaz ini milik mereka.)
Ini doa yang indah karena ia mengajarkan bahwa bulan baru bukan hanya soal kalender, tetapi soal harapan baru. Kita memulai bulan dengan iman, keselamatan, Islam, dan taufik untuk melakukan amal yang Allah cintai.
Siapkan Dirimu, Karena Ramadhan Ini Bisa Jadi yang Terakhir
Saudaraku, Ramadhan adalah hadiah. Tetapi hadiah ini tidak
selalu datang dua kali untuk setiap orang.
Ada orang yang tahun lalu masih tarawih, tahun ini sudah di liang lahat. Ada orang yang dulu masih membaca Al-Qur’an, kini Namanya hanya tinggal kenangan. Maka jangan jadikan Ramadhan sebagai bulan “coba-coba”. Jadikan ia bulan taubat yang jujur, ibadah yang serius, Al-Qur’an yang hidup dalam rumah dan hati, doa yang panjang dan amal yang terukur. Karena Ramadhan bukan sekadar momen tahunan ia adalah jalan kita menuju perubahan.
Mari kita sambut Ramadhan dengan dengan ilmu, dengan doa,
dengan amal, dan dengan niat yang tulus.
Semoga Allah menyampaikan kita kepada Ramadhan, menolong kita berpuasa dan qiyam, serta menerima amal kita dengan penerimaan yang baik.
اللهم بلغنا رمضان، وأعنا فيه على الصيام والقيام، وتقبله منا يا كريم.
Aamiin.
- Heri Efendi, Lc -

Posting Komentar